Muhammad Habibi Muhammad Habibi
Ads go here

Kompak Memilih, Belum Tentu Sependapat

Kompak Memilih, Belum Tentu Sependapat
Daftar isi

Anggota parlemen dapat memilih sama dengan alasan berbeda. Penelitian debat energi di Swiss memperlihatkan apa yang terlewat jika kita hanya membaca rekap voting tanpa mengikuti pidato dan kepentingan daerah pemilihan.

Rekap voting membagi anggota parlemen ke barisan setuju dan menolak. Tetapi dua orang yang menolak usulan yang sama bisa membawa alasan berbeda: seorang khawatir pada kerusakan lingkungan, yang lain pada biaya pelaksanaannya.

Jika perhatian berhenti pada hasil akhir, perbedaan pertimbangan itu hilang. Membaca pidato dapat memperlihatkan hal-hal yang tidak tertampung dalam satu pilihan suara.

Daniel Schwarz, Denise Traber, dan Kenneth Benoit menguji persoalan itu melalui perdebatan kebijakan energi di parlemen Swiss. Mereka membandingkan posisi anggota yang diperkirakan dari voting dengan posisi yang diperkirakan dari pidato. Penelitian yang terbit dalam Political Science Research and Methods edisi April 2017 ini menemukan perbedaan yang mudah luput ketika perhatian hanya tertuju pada hasil pemungutan suara.[1]

Voting merangkum keputusan, pidato menyimpan alasan

Voting penting karena keputusan parlemen dibuat melalui pilihan yang tercatat. Dukungan yang disampaikan dalam pidato tidak selalu menentukan apakah suatu usulan lolos. Pilihan saat pemungutan suara memiliki akibat yang lebih langsung.

Voting juga dipengaruhi posisi partai, kesepakatan politik, dan paket usulan yang tersedia. Mendukung paket kebijakan tidak selalu berarti menyetujui setiap bagiannya.

Pidato memberi ruang untuk menyampaikan keberatan, syarat dukungan, atau alasan yang tidak tertampung dalam pilihan setuju dan menolak. Dalam ruang itu, perbedaan sesama anggota partai bisa terdengar lebih jelas.

Pidato pun dapat disusun untuk kepentingan politik. Peneliti tidak menganggapnya selalu lebih jujur, melainkan memeriksa apakah pidato memberi informasi tambahan dibandingkan voting.

Contoh rekaan

Delapan suara yang sama, alasan yang belum terlihat

Bukan data anggota parlemen

Delapan anggota dari satu partai sama-sama menolak sebuah usulan energi. Pilih susunan alasannya, lalu buka catatan pidato. Rekap voting tetap sama.

8 dari 8 anggota menolakAlasan belum ditampilkan
Anggota 01TolakAlasan belum dibuka
Anggota 02TolakAlasan belum dibuka
Anggota 03TolakAlasan belum dibuka
Anggota 04TolakAlasan belum dibuka
Anggota 05TolakAlasan belum dibuka
Anggota 06TolakAlasan belum dibuka
Anggota 07TolakAlasan belum dibuka
Anggota 08TolakAlasan belum dibuka

Dari rekap voting saja, kedua susunan alasan ini terlihat sama.

Nama, alasan, dan pengelompokan dalam contoh ini dibuat untuk menjelaskan gagasan. Pengelompokan alasan bukan skor Wordfish dan bukan hasil penelitian Swiss. Perbedaan alasan tidak selalu berarti anggota berada pada kubu kebijakan yang berlawanan.

Perdebatan energi memberi kesempatan membandingkan keduanya

Kasus yang dipilih berlangsung pada 2002–2003. Parlemen Swiss memperdebatkan masa depan energi nuklir, termasuk usulan penghentian nuklir dan perpanjangan larangan pembangunan reaktor baru. Pemerintah menawarkan undang-undang energi nuklir sebagai alternatif terhadap dua usulan tersebut.

Perdebatan ini menghasilkan 66 voting. Catatan pidato yang akhirnya dianalisis mencakup 275 pidato dari 30 anggota dan enam partai. Peneliti dapat membandingkan apa yang dikatakan dan apa yang dipilih dalam pembahasan kebijakan yang sama, alih-alih memasangkan pidato tentang satu isu dengan voting tentang isu lain.

Kata-kata diolah menjadi ukuran, dengan sejumlah batas

Dari pola voting, model menempatkan anggota pada satu sumbu. Anggota yang berulang kali memilih serupa cenderung ditempatkan berdekatan.

Untuk pidato, peneliti memakai Wordfish, metode yang membandingkan frekuensi kata. Pidato tiap anggota digabungkan, lalu pola bahasanya dipakai untuk memperkirakan posisi teks. Ini berbeda dari sekadar menghitung penyebutan kata nuklir atau memberi label sentimen positif dan negatif.

Sumbu teks kemudian ditafsirkan dengan konteks perdebatan mendukung dan menentang nuklir. Skornya menunjukkan pola bahasa, bukan isi pikiran yang dapat dibaca langsung.

Analisis hanya memasukkan teks berbahasa Jerman dan anggota dengan gabungan pidato sedikitnya 500 kata. Pernyataan prosedural, pemerintah, dan pelapor komite disisihkan. Pembatasan ini membuat perbandingan lebih sesuai, sekaligus mengurangi jumlah anggota yang terwakili. [2]

Perbedaan muncul di dalam barisan yang terlihat kompak

Secara keseluruhan, posisi dari pidato dan voting sangat berkaitan, dengan korelasi 0,94. Perbedaan yang menarik justru muncul di dalam partai.

Yang menarik justru pola di dalam partai. Pada kelompok kiri yang kompak saat voting, terutama Sosial Demokrat dan Partai Hijau, posisi berdasarkan pidato memperlihatkan keragaman yang lebih besar. Di kelompok tengah dan kanan, tempat voting sudah lebih bervariasi, kedua ukuran memberi gambaran yang lebih mirip.

Keragaman bahasa di kubu kiri tidak berarti ditemukan pendukung nuklir tersembunyi. Anggota tetap menentang nuklir, tetapi alasan yang menonjol berbeda. Bahasa teknis dan ekonomi, misalnya, dapat membuat posisi teks seseorang lebih dekat dengan bahasa kubu pendukung. [3]

Pemilih di dapil ikut terlihat dalam pidato

Peneliti kemudian bertanya apakah perbedaan itu berkaitan dengan lingkungan politik anggota. Dua referendum pada Mei 2003 menyediakan pembanding berupa dukungan warga terhadap usulan penghentian nuklir dan moratorium reaktor baru. Hasilnya tersedia menurut kanton, wilayah yang menjadi daerah pemilihan.

Dalam model regresi, dukungan yang lebih besar terhadap dua usulan anti-nuklir berkaitan dengan posisi pidato yang lebih mengarah ke sisi anti-nuklir. Hubungan tersebut tetap muncul setelah model memperhitungkan posisi dari voting, partai, usia, dan jenis kelamin anggota.

Selisih dukungan dapil sebesar 10 poin persentase berkaitan dengan selisih skor pidato sekitar −0,160 pada model penghentian nuklir dan −0,190 pada model moratorium. Keduanya memakai model terpisah. Satuannya skor Wordfish, bukan persentase anggota yang berubah pikiran. [4]

Pola itu sesuai dengan penjelasan bahwa anggota mempertimbangkan pemilih dapil ketika berbicara, meski mengikuti partai saat voting. Namun, hubungan dalam data ini belum memastikan bahwa perubahan sikap warga menyebabkan perubahan pidato.

Hasil penelitian Swiss

Dukungan di dapil dan posisi dalam pidato

Tabel 3 · Model 3 dan 4

Geser besar perbedaan dukungan terhadap usulan anti-nuklir. Grafik memperlihatkan selisih skor pidato yang berkaitan dengan perbedaan itu dalam dua model, dengan variabel lain dianggap sama.

0 poin20 poin
Selisih skor Wordfish · Nilai negatif mengarah ke posisi anti-nuklir
Estimasi Rentang 95% Tidak ada selisih
Penghentian nuklir · Model 3−0,160selisih skor

Jika dukungan terhadap usulan ini berbeda 10 poin persentase, model memperkirakan selisih skor pidato −0,160. Tanda negatif mengarah ke posisi anti-nuklir pada skala penelitian.

Rentang 95% −0,310 sampai −0,020.

Asosiasi dalam model, dengan posisi voting, partai, usia, serta jenis kelamin dianggap sama. Bukan ukuran perubahan pendapat seorang anggota.

Rentang berasal dari interval koefisien yang diterbitkan, dikalikan besar perbedaan dukungan. Ini rentang untuk hubungan yang diestimasi, bukan rentang prediksi lengkap bagi anggota tertentu. Menggeser kontrol hanya mengubah perhitungan tampilan, tanpa menjalankan ulang regresi.

Lihat angka asli dan cara membaca grafik
Koefisien per 1 poin persentase dukungan dapil
ReferendumKoefisienRentang 95%
Penghentian nuklir−0,016−0,031 sampai −0,002
Moratorium reaktor baru−0,019−0,035 sampai −0,003

Sumber Tabel 3, halaman 393, model 3 dan 4. Masing-masing model memuat 30 observasi anggota. Koefisien penghentian nuklir −0,016 dengan rentang −0,031 sampai −0,002; moratorium −0,019 dengan rentang −0,035 sampai −0,003.

Contoh 10 poin berarti membandingkan dukungan 40% dengan 50%, bukan menaikkan 40% sebesar 10% menjadi 44%. Semua nilai grafik adalah selisih skor. Skor absolut seorang anggota memerlukan seluruh variabel serta konstanta model. Besarnya kedua koefisien tidak diuji di sini sebagai perbedaan yang signifikan satu sama lain.

Unduh angka penelitian · Buka sumber

Siapa yang mendapat mikrofon tetap perlu diperiksa

Analisis pidato hanya menangkap orang yang memperoleh dan memakai kesempatan berbicara. Jika pandangan berbeda dicegah tampil, catatan debat juga dapat memberi gambaran yang terlalu seragam.

Dalam konteks Swiss yang dipelajari, anggota memiliki ruang cukup luas untuk mengajukan perubahan usulan dan membela pendapatnya. Peneliti juga memeriksa siapa yang berbicara serta panjang pidatonya. Keanggotaan komite menonjol sebagai faktor yang berkaitan dengan partisipasi dan panjang pidato. Mereka tidak menemukan bukti bahwa anggota yang lebih jauh dari posisi tengah partainya secara sistematis disingkirkan dari debat.

Tidak ditemukannya pola penyingkiran tersebut belum berarti kesempatan semua anggota identik. Analisis posisi teks mencakup 30 anggota yang memenuhi syarat, sedangkan seluruh perdebatan melibatkan 58 pembicara. [5]

Membaca parlemen Indonesia dengan pertanyaan yang lebih tajam

Untuk DPR atau DPRD, pertanyaan awalnya sederhana: apakah anggota satu fraksi yang memilih sama juga menyampaikan alasan, keberatan, dan usulan yang sama? Penelitian Swiss menawarkan cara memeriksanya, bukan jawaban tentang parlemen Indonesia.

Bandingkan pidato dan voting pada isu yang sama jika catatannya tersedia. Bedakan pula pendapat pribadi dari tugas membacakan sikap fraksi atau laporan komite.

Berikutnya, periksa apakah keadaan dapil berkaitan dengan penekanan anggota. Kesimpulannya memerlukan data daerah dan rangkaian pembahasan, bukan satu cuplikan pidato.

Ada hubungan dengan persoalan dalam Suara Partai Tidak Otomatis Menjadi Suara Calon. Angka hasil yang terlihat di permukaan tidak selalu cukup untuk menyimpulkan pertimbangan orang di belakangnya. Penelitian Swiss menambahkan satu pintu masuk untuk memeriksanya, yakni perkataan anggota selama proses menuju keputusan.

Perdebatan tidak berakhir pada rekap suara

Rekap menjelaskan keputusan parlemen. Perdebatan membantu menjelaskan alasan dan kepentingan yang masuk ke dalamnya. Membaca keduanya memberi penilaian yang lebih lengkap tentang pekerjaan wakil rakyat.

Rujukan dan catatan angka

  1. Daniel Schwarz, Denise Traber, dan Kenneth Benoit. 2017. Estimating Intra-Party Preferences — Comparing Speeches to Votes. Political Science Research and Methods 5(2), 379–396. Halaman penerbit dan DOI.Artikel diterbitkan daring pada 21 Desember 2015 dan masuk edisi jurnal April 2017. Tulisan ini membahas kasus Swiss 2002–2003, tanpa menganggap hasilnya telah mengukur perilaku parlemen Indonesia.

Catatan pembacaan data
  • [2] Data voting dan pidato dijelaskan pada halaman 380–383. Pemilihan teks serta syarat gabungan pidato minimal 500 kata dijelaskan dalam lampiran halaman 396. Angka 275 pidato dan 30 anggota adalah korpus analisis akhir, bukan seluruh pidato atau seluruh anggota parlemen. Pemodelan pidato dibahas pada halaman 388–390.

  • [3] Gambar 4, halaman 390, melaporkan korelasi Pearson 0,94 antara posisi voting dari IRT dan posisi pidato dari Wordfish. Pembahasan halaman 388–390 menekankan keragaman di dalam partai yang voting-nya kompak dan menjelaskan bahwa perbedaan tersebut tidak mengubah kubu kiri menjadi pendukung nuklir.

  • [4] Grafik memakai koefisien dan rentang 95% Tabel 3 pada halaman 393, model 3 untuk referendum penghentian nuklir dan model 4 untuk referendum moratorium. Keduanya mengendalikan posisi voting, partai, usia, serta jenis kelamin dan masing-masing memuat 30 observasi. Kontras yang ditampilkan adalah koefisien dikalikan selisih dukungan dalam poin persentase. Ini asosiasi bersyarat dalam model observasional.

  • [5] Konteks hak berbicara dibahas pada halaman 381–382. Model partisipasi dan panjang pidato ada pada Tabel 2, halaman 387. Model partisipasi memuat 199 anggota, model panjang pidato memuat 48 pembicara, sedangkan korpus perbandingan posisi akhir memuat 30 anggota setelah seleksi teks. Jumlah tersebut merujuk sampel yang berbeda dan tidak boleh dipertukarkan.

  • [6] Pembahasan halaman 393–394 membatasi generalisasi karena penelitian mendalami satu perdebatan energi dan satu lingkungan kelembagaan. Contoh delapan anggota pada halaman ini sepenuhnya rekaan. Pengelompokan alasannya tidak menjalankan analisis Wordfish atau mereplikasi data penelitian.

Komentar

Ikuti tulisan berikutnya

Dapatkan kabar artikel baru melalui email jika Anda memilih berlangganan.

Pilih langganan email

Komentar

Diskusikan tulisan ini. Komentar pembaca ditampilkan setelah disetujui penulis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Bagikan artikel

Kompak Memilih, Belum Tentu Sependapat

WhatsAppFacebookXTelegramLinkedIn

Tampilan bacaan

Sesuaikan lebar tulisan dan kolom samping.

Cari

Cari artikel berdasarkan topik, kategori, atau kata kunci.