Muhammad Habibi Muhammad Habibi
Ads go here

Uang Kampanye dan Harga untuk Dikenal

Uang Kampanye dan Harga untuk Dikenal
Daftar isi

Calon yang sudah dikenal dan calon yang baru muncul memakai uang kampanye dari posisi awal yang berbeda. Penelitian pemilu Amerika Serikat memperlihatkan manfaat belanja, sekaligus kesulitan memisahkan pengaruh uang dari ketatnya persaingan.

Sebelum kampanye dimulai, anggota parlemen yang maju kembali mungkin sudah dikenal melalui pemberitaan dan kegiatan di daerahnya. Penantangnya masih harus mencari perhatian. Uang yang sama pun menghadapi pekerjaan berbeda: menjaga dukungan yang sudah ada atau memperkenalkan calon yang namanya belum diingat.

Gary C. Jacobson meneliti perbedaan itu melalui pemilu Kongres Amerika Serikat 1972 dan 1974. Artikelnya, terbit pada 1978, menemukan hubungan belanja dan suara yang lebih kuat pada penantang, terutama dalam pemilihan House of Representatives, majelis rendah Kongres. Apa yang membuat belanja penantang tampak lebih berguna? [1, hlm. 469–470]

Keunggulan sebelum kampanye

Petahana—calon yang sedang menjabat—memiliki waktu untuk membangun hubungan dan reputasi sebelum masa kampanye. Penantang harus mengejar ketertinggalan itu. Membayar penyampaian pesan dapat membantunya menjangkau pemilih yang sebelumnya bahkan belum mengenal namanya. [1, hlm. 470, 479–480]

Survei yang dipakai Jacobson memperlihatkan jaraknya. Pada pemilu House 1972, 50 persen pemilih dalam sampel dapat mengingat nama petahana dan 27 persen mengingat nama penantang. Dua tahun kemudian, angkanya 57 dan 31 persen. Dalam pemilihan Senat 1974, petahana diingat oleh 73 persen pemilih, penantang oleh 44 persen. Persentase pada Tabel 9 ini mengukur ingatan atas nama, bukan suara yang diperoleh calon. [1, hlm. 480]

Grafik 1 · Hasil survei

Siapa yang lebih mudah diingat?

Persentase pemilih dalam survei yang dapat mengingat nama kandidat. Arahkan, sentuh, atau fokuskan batang untuk melihat sampelnya.

PetahanaPenantang
Lihat angka dan sumber
Hasil pengenalan nama dari Tabel 9
KontesPetahanaPenantangN
House 197250%27%498
House 197457%31%856
Senat 197473%44%595

Jacobson (1978), Tabel 9, hlm. 480. Survei SRC 1972 dan 1974; survei 1974 berbobot. N = jumlah kasus yang menjadi dasar persentase dalam tabel artikel. Kolom kandidat di open seat tidak ditampilkan.

Pengukuran ingatan atas nama. Persentase ini tidak menunjukkan dukungan, pangsa suara, atau pengetahuan lengkap tentang kandidat.

Tentu ada penantang yang sudah terkenal melalui pekerjaan atau kegiatan lain. Status petahana membantu menjelaskan keuntungan awal, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan atas keterkenalan tiap calon.

Belanja besar saat kedudukan terancam

Pola belanja petahana mula-mula tampak ganjil. Tanpa memperhitungkan faktor lain, pengeluaran yang lebih besar justru berkorelasi dengan suara yang lebih tinggi bagi penantangnya. Apakah kampanye mahal malah merugikan orang yang sedang menjabat? [1, hlm. 472]

Petahana dapat menambah belanja justru karena lawannya menguat. Ancaman kekalahan mendorong pengeluaran, sehingga belanja besar dan hasil buruk muncul bersamaan. Itu belum berarti kampanyenya menyebabkan kekalahan.

Dari 39 petahana House yang kalah pada 1974 dalam perbandingan Jacobson, 34 membelanjakan lebih banyak daripada ketika menang pada 1972. Rata-rata belanja kelompok yang kalah itu naik dari US$69.218 menjadi US$101.645, sekitar 47 persen. Mereka tetap kehilangan kursi. Namun, angka ini belum memberitahu kita seberapa buruk hasilnya jika mereka tidak menambah belanja. [1, hlm. 474]

Karena itu, laporan pengeluaran perlu dibaca bersama keadaan persaingannya. Jumlah uang saja tidak menjelaskan apakah calon sedang memperluas dukungan atau berusaha menahan kemerosotan.

Arah hubungan uang dan suara

Uang dapat membantu meraih dukungan, tetapi calon yang lebih berpeluang menang juga dapat lebih mudah memperoleh sumbangan. Pengalaman dan daya tarik calon memengaruhi keduanya. Inilah kesulitan utama ketika peneliti hendak menghitung pengaruh belanja terhadap suara. [1, hlm. 470, 474–475]

Jacobson mula-mula membandingkan belanja kedua calon sambil memperhitungkan partai dan kekuatannya di daerah pemilihan. Analisis House mencakup 296 persaingan pada 1972 dan 319 pada 1974. Sampelnya terbatas pada persaingan petahana dan penantang dari partai besar yang memenuhi kebutuhan data. [1, hlm. 472, Tabel 1 dan catatan 5]

Ia lalu memakai metode dua tahap, atau 2SLS, untuk menangani hubungan timbal balik uang dan dukungan. Belanja lebih dahulu diperkirakan dengan bantuan variabel lain, lalu perkiraan itu digunakan untuk menghitung hubungannya dengan suara. Cara ini bergantung pada asumsi penting: variabel pembantu tersebut tidak boleh memengaruhi suara melalui jalur lain yang luput dari model. [1, hlm. 474–475]

Dalam model lengkap 2SLS, tambahan US$10.000 belanja penantang menghasilkan estimasi kenaikan pangsa suaranya sebesar 1,63 poin persentase pada 1972 dan 1,79 poin pada 1974, dengan variabel lain tetap. Tambahan belanja petahana dalam jumlah yang sama berkaitan dengan penurunan suara penantang sebesar 0,51 dan 0,22 poin. Semua koefisien dibaca terhadap hasil yang sama, yakni pangsa suara dua partai penantang. [1, hlm. 476, Tabel 4]

Perubahan 1,79 poin berarti, misalnya, dari 40 persen menjadi 41,79 persen suara dalam model. Angka itu tidak menunjukkan peluang menang dan tidak menjamin tambahan suara pada setiap calon.

Taksirannya juga belum cukup presisi untuk diperlakukan sebagai harga pasti per suara. Dalam model lengkap 1974, pengaruh belanja penantang tidak signifikan pada ambang 5 persen; begitu pula belanja petahana pada kedua tahun. Jacobson mengaitkan rendahnya presisi dengan dua perkiraan belanja yang sangat berkaitan. Model yang membuang salah satunya memberi hasil lebih presisi, tetapi pertanyaan yang dijawab model ikut berubah. [1, hlm. 476–477, Tabel 4–5]

Grafik 2 · Estimasi regresi

Belanja siapa yang terkait dengan suara penantang?

Perubahan pangsa suara dua partai penantang per tambahan US$10.000 belanja kandidat yang disebut, dengan variabel lain dalam model tetap.

Belanja penantangBelanja petahana

● signifikan   ○ tidak signifikan pada ambang 5% artikel

Lihat koefisien dan cara membaca
Poin suara penantang per tambahan 10.000 dolar belanja
ModelBelanja penantangBelanja petahanaN
1972 OLS+1,12−0,02296
1974 OLS+1,21−0,28319
1972 2SLS+1,63−0,51296
1974 2SLS+1,79−0,22319

Jacobson (1978), Tabel 1 (hlm. 472) dan model lengkap pada Tabel 4 (hlm. 476). Koefisien dikalikan 10 karena satuan asli belanja adalah ribuan dolar. Tanda negatif belanja petahana dipertahankan karena variabel hasil tetap suara penantang. Ambang mengikuti artikel, |t| ≥ 1,98.

Arahkan atau sentuh titik untuk melihat nilai t. Dengan keyboard, fokuskan baris lalu tekan panah atas/bawah untuk berganti kandidat. Titik adalah estimasi, bukan tarif pasti mendapatkan suara. Data mikro tidak diberikan sehingga interval kepercayaan tidak dihitung ulang.

Hasil untuk House 1972 dan 1974. Poin persentase berbeda dari persen perubahan relatif maupun peluang menang. Dolar adalah nominal pada tahun pemilu, tanpa konversi inflasi atau rupiah.

Dikenal belum tentu disukai

Dalam analisis House, belanja lebih kuat berkaitan dengan pengenalan calon nonpetahana, termasuk calon di kursi tanpa petahana. Kampanye dapat mempersempit jarak keterkenalan, meski biayanya bisa melampaui kemampuan penantang pada umumnya. Hasil Senat lebih beragam: setelah hubungan timbal balik diperhitungkan, manfaat belanja bagi pengenalan petahana dan nonpetahana tampak lebih serupa. [1, hlm. 481–485, Tabel 10]

Grafik 3 · Rekonstruksi model historis

Bagaimana belanja berkaitan dengan pengenalan?

Geser belanja untuk mengeksplorasi kurva yang direkonstruksi dari persamaan Jacobson. Kedua kandidat dibandingkan pada nilai belanja yang sama.

Nonpetahana · 2SLSPetahana · OLS

House 1972

House 1974

Lihat persamaan dan batas model

Persamaan dari Tabel 10, hlm. 483, dengan rentang mengikuti Figur 1 dan 2. Peluang = 1 / (1 + exp(−(a + bE))). Nonpetahana 2SLS memakai a = −1,25 dan b = 0,0087 pada 1972, serta a = −1,20 dan b = 0,0104 pada 1974. Petahana OLS memakai a = −0,036 dan b = 0,0005 pada 1972, serta a = −0,129 dan b = 0,0078 pada 1974.

E dalam ribuan dolar AS, nominal pada tahun pemilu. Untuk nonpetahana 2SLS, E adalah belanja hasil prediksi tahap pertama; untuk petahana OLS, E adalah belanja aktual. Perbandingan dua estimator yang berbeda mengikuti figur artikel. Nonpetahana mencakup penantang dan calon di open seat.

Kurva adalah rekonstruksi persamaan, bukan data baru atau titik observasi individual. Nilai pada nol belanja adalah intersep model. Tidak ada pita ketidakpastian karena tabel yang digunakan tidak menyediakan informasi yang memadai untuk menghitungnya. Pengukuran ini tidak memprediksi suara atau kemenangan.

Model Amerika Serikat pada 1970-an. Rekonstruksi membantu membaca mekanisme penelitian dan tidak boleh dipakai untuk menjanjikan hasil kampanye di Indonesia.

Dikenal juga berarti lebih terbuka untuk dinilai buruk. Dalam survei Senat 1974, orang yang mengenal calon lebih sering memiliki komentar, baik positif maupun negatif. Sebagian pemilih yang tidak ingat nama calon pun tetap dapat menilainya. Ingatan atas nama berguna sebagai ukuran, tetapi belum merangkum seluruh pengetahuan pemilih. [1, hlm. 485–488]

Batas belanja dan kesempatan bersaing

Batas belanja yang terlalu rendah dapat menyulitkan penantang memperkenalkan diri, sementara petahana tetap menikmati reputasi yang dibangun selama menjabat. Batas uang yang sama, dengan demikian, dapat berhadapan dengan keuntungan awal yang berbeda. [1, hlm. 489–490]

Sebaliknya, dalam model House Jacobson, subsidi yang menambah kemampuan penantang untuk berkampanye berpotensi memperkuat persaingan.

Namun, hasil kombinasi subsidi dan batas belanja berbeda antara 1972 dan 1974. Suasana persaingan ikut menentukan; bantuan dana tidak otomatis menghasilkan pemilu yang lebih kompetitif. [1, hlm. 489–490]

Riset ini juga belum menilai tujuan lain pengaturan dana kampanye, seperti mencegah penyalahgunaan dana dan mengurangi ketergantungan pada penyumbang.

Perdebatan tentang efek belanja terus berkembang. Alan Gerber, dalam penelitian pemilihan Senat yang terbit pada 1998, menggunakan variabel instrumental dan memperoleh estimasi efek marginal belanja petahana dan penantang yang kurang lebih sebanding. Hasil itu menunjukkan kepekaan kesimpulan terhadap konteks dan cara menangani hubungan timbal balik. Karena yang diteliti adalah Senat, temuannya tidak langsung membatalkan seluruh hasil Jacobson untuk House. [2]

Pertanyaan untuk pemilu Indonesia

Pemilu DPR dan DPRD Indonesia pada 2024 menggunakan sistem proporsional terbuka. Suara calon menentukan siapa yang terpilih dalam perolehan kursi partainya. Seorang caleg berhadapan dengan calon dari partai lain sekaligus bersaing dengan rekan separtai. Struktur ini berbeda dari kontes dua partai dalam analisis utama House yang dibahas Jacobson. [3]

Dengan perbedaan itu, koefisien Amerika Serikat pada 1970-an tidak dapat dipindahkan menjadi perhitungan biaya mendapatkan suara di Indonesia. Mengonversi US$10.000 ke rupiah tidak membuat efeknya ikut berlaku. Biaya menjangkau pemilih, peran partai, dan jumlah kursi mempunyai pengaruh yang perlu diteliti di sini.

Untuk mengujinya di Indonesia, data pengeluaran perlu disandingkan dengan keterkenalan calon, pengalaman politik, dan kekuatan partainya. Pengeluaran untuk menyampaikan program juga perlu dibedakan dari pembelian suara. Menyatukan semuanya dalam satu angka akan mengaburkan apa yang sebenarnya dibiayai.

Pemilih membutuhkan kesempatan mengenali dan membandingkan calon. Penelitian Jacobson mengingatkan bahwa biaya untuk mencapai keadaan itu tidak selalu sama bagi orang yang sudah menjabat dan orang yang baru menantang.

Rujukan dan catatan angka

  1. Jacobson, Gary C. (1978). “The Effects of Campaign Spending in Congressional Elections.” American Political Science Review, 72(2), 469–491. DOI 10.2307/1954105. Sumber utama adalah naskah sumber. Tabel angka dan persamaan diperiksa pada tampilan halaman aslinya.

  2. Gerber, Alan (1998). “Estimating the Effect of Campaign Spending on Senate Election Outcomes Using Instrumental Variables.” American Political Science Review, 92(2), 401–411. DOI 10.2307/2585672. Digunakan terbatas sebagai pembanding dari abstrak penerbit.

  3. Mahkamah Konstitusi RI (11 Oktober 2024). “Hakim Konstitusi Daniel Yusmic Bahas Implikasi Putusan MK terhadap Demokrasi Indonesia.” Sumber konteks proporsional terbuka dan penentuan calon berdasarkan suara terbanyak.

Catatan pembacaan data

Pembahasan Indonesia merupakan interpretasi dan pertanyaan lanjutan. Jacobson tidak meneliti pemilu Indonesia. Catatan sumber dan cara membaca setiap grafik tersedia di bawahnya.

Komentar

Ikuti tulisan berikutnya

Dapatkan kabar artikel baru melalui email jika Anda memilih berlangganan.

Pilih langganan email

Komentar

Diskusikan tulisan ini. Komentar pembaca ditampilkan setelah disetujui penulis.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berdiskusi.

Bagikan artikel

Uang Kampanye dan Harga untuk Dikenal

WhatsAppFacebookXTelegramLinkedIn

Tampilan bacaan

Sesuaikan lebar tulisan dan kolom samping.

Cari

Cari artikel berdasarkan topik, kategori, atau kata kunci.